Harun Dethan Khotbah Populer.

March 5, 2010

Judul : Berjalan Bersama Yesus sampai akhir hidup. Didasarkan pada Yohanes 14:6 Oleh Pst. Harun I. Dethan, MSc.,MA. 15 mei ’09 Pada PDO Bukit Sion Jl Kelapa Muda Jakarta Utara. • 14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. • 14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. • 14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. • 14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” • 14:5 Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” • 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Nats firman Tuhan yang baru saja kita baca dilatarbelakangi oleh pengucapan yang tegas sekaligus sebagai penyemangatan kepada pengikut Tuhan. Bahwa hidup ini tidak boleh dikuasai oleh kegelisahan, mengapa? Karena hanya orang yang hidup tanpa Yesuslah yang patut gelisah. Sebaliknya kita yang berjalan bersama yesus memiliki keyakinan sebagaimana Tuhan Yesus mengatakan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yakinlah berjalan bersama Yesus ada jaminan yakni kita akan beroleh Kepastian, kebenaran dan kehidupan. Mengapa kita harus berjalan bersama Yesus sampai akhir? Jika kita membaca Yohanes 14:6 dengan cermat dan kita hubungkan dengan nats firman Tuhan Yang lain yang ada dalam Alkitab kita maka kita akan menemukan 5 jawaban pokok. 1. Supaya kita beroleh Mahkota Keabadian (I Korintus 9: 24-27) 2. Supaya kita beroleh Mahkota Kemegahan (I Tesalonika 2:19) 3. Supaya kita beroleh Mahkota Kebenaran (II Timotius 4:8) 4. Supaya kita beroleh Mahkota Kemuliaan (I Petrus 5:4) 5. Supaya kita beroleh Mahkota Kehidupan (Yakobus 1:12 Tujuan khotbah ini adalah agar kita memahami bahwa berjalan bersama Yesus sampai akhir hidup sebagai keharusan. Dan sekaligus kita disemangati untuk tekun dan tabah. Mengapa kita harus berjalan bersama Yesus sampai akhir hidup? 1. Supaya kita beroleh Mahkota Keabadian (The crown incorruptible : I Korintus 9: 24-27) 9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. 9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Mahkota ini diberikan kepada setiap orang giat untuk mencapai hasil yang maksimal, seperti Pelari dan Petinju. Berlari menurut peraturan dan sprotif Bertinju menurut peraturan dan sprotif Mengapa kita harus berjalan bersama Yesus sampai akhir hidup? 2. Supaya kita beroleh Mahkota Kemegahan (The crown of rejoicing : I Tesalonika 2:19) 2:19 Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? 2:20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami. Mengapa kita harus berjalan bersama Yesus sampai akhir hidup? 3. Supaya kita beroleh Mahkota Kebenaran (The crown of righteonsness : II Timotius 4:8) 4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. 4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. 4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. Mengapa kita harus berjalan bersama Yesus sampai akhir hidup? 4. Supaya kita beroleh Mahkota Kemuliaan (The crown of glory : I Petrus 5:4) 5:4 Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. Mengapa kita harus berjalan bersama Yesus sampai akhir hidup? 5. Supaya kita beroleh Mahkota Kehidupan (The crown of life : Yakobus 1:12 1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. 1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. 1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Pdt. Harun Dethan, MA.

March 17, 2009

Judul: menikah itu indah.
didasarkan pada Kejadian 2:21-24
Nats firman Tuhan ini dilatarbelakangi oleh penciptaan fasilitas penunjang manusia pertama, dan menghadirkan penolong yang ideal. didalam bentukan Allah itu, Allah menghembuskan nafas sehingga menjadi mahkluk hidup. Allah memberikan perintah untuk memelihara dan menguasai serta menaklukan ciptaan yang lain, karena manusia adalah mahkota dari segala ciptaan. Ternyata Allah pun memberikan pelarangan agar tidak memakan buah larangan yang datangnya dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Allah pun menghadirkan penolong yang sepadam. “……….ia dinamai perempuan sebab ia diambil dari laki-laki” sebagaimana Tuhan Allah merancang pernikahan pertama maka sampai hari ini setiap laki-laki dan perempuan dianjurkan menikah dari pada berbuat dosa, karena menukah itu indah.
Mengapa menikah itu indah? jika kita mempelajari Kejadian 2:22-24 dengan cermat dan dihubungkan dengan nats firman Tuhan yang lain yang ada dalam Alkitab kita maka paling tidak kita menemukan 4 jawaban pokok.
1. Karena dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan saling mencintai.
2. Karena dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan saling menghangatkan.
3. Karena dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan saling menghormati.
4. Karena dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan saling menaati.
pembaca yang budiman, menikah itu indah karena direstui orang tua dan Tuhan Allah, jadi sebelum menikah buka mata lebar-lebar untuk memilih bibit, bobot, bebet, dan iman kepada Yesus Kristus diluar itu jangan deh, karena anda akan menyesal dikemudian hari. syalom, Pdt. harun dethan.

Pdt. Harun Dethan,MSc. MA. khotbah.

March 17, 2009

Dalam perlombaan Iman, setiap orang akan berlari untuk mencapai garis akhir. Ketika kita tidak sampai pada garis tersebut maka siapa pun kita tidak akan pernah diberikan Mahkota oleh Allah, untuk itulah semua manusia sedang berlomba dan mereka harus konsisten mengikuti semua peraturan yang telah disiapkan Allah. pembaca yang budiman paling tidak ada 5 jenis mahkota yang telah disediakan Allah untuk kita raih dengan cara yang benar.
1. Mahkota Keabadian/The crown incorruptible (I Korintus 9: 24-27)
2. Mahkota Kemegahan/The crown of rejoicing (I Tesalonika 2:19)
3. Mahkota Kebenaran/The crown of righteonsness (II Timotius 4:8)
4. Mahkota Kemuliaan/The crown of glory (I Petrus 5:4)
5. Mahkota Kehidupan/The crown of life (Yakobus 1:12)
Marilah kita berlombah dengan benar sehingga kita berpeluang untuk memekai Mahkota tersebut sebagai upah dari kemenangan menaklukan diri pada kehendak Allah, hanya dengan pertolongan kuasa Rohkudus sajalah maka kita dapat menang. Disarikan dari khotbah mingguan pendeta harun dethan.

GMIT Rote Ndao

March 17, 2009
Sabtu, 07 Mar 2009, | 48
Alkitab Menjawab Yesus adalah Tuhan dan Allah
Oleh : Jamres El Roni Mooynafi

Penulis : Anggota Majelis Jemaat, GMIT Jemaat Petrus Ombok Klasis Rote Barat Laut – Rote Ndao

Tulisan ini saya bangun diatas dasar Alkitab, Saya bukan seorang Teolog tapi saya seorang warga Gereja, yang bernaung di bawah Gereja Masehi Injili DiTimor (GMIT), saya di Baptiskan di GMIT Jemaat Siloam Oeseli Klasis Rote Barat Daya, Saya di Thabiskan menjadi Anggota Sidi pada GMIT Jemaat Silo Naikoten I Kota Kupang, Pernah menjadi Anggota Majelis Jemaat pada GMIT Jemaat Silo Naikoten I Kota Kupang dan Anggota Majelis Jemaat pada GMIT Jemaat Koinonia Kuanino Kota Kupang, Kini saya tercatat sebagai Anggota Majelis Jemaat pada GMIT Jemaat Petrus Ombok Klasis Rote Barat Laut-Rote Ndao.

Dan sebagai warga GMIT yang dengan perantaraan Roh Kudus telah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah, saya turunkan tulisan ini kepada seluruh warga GMIT dimanapun berada sebagai penguatan Iman dalam menghadapi berbagai ”aliran sesat” yang muncul belakangan ini yang menggugat keberadaan Yesus sebagai Tuhan dan Allah, bahkan yang sangat saya sesalkan adalah munculnya juga dari dalam tubuh Gereja (GMIT) sendiri.

Yohanes sebagai salah seorang murid Tuhan Yesus memberi kesaksian sebagaimana tertulis dalam Kitab Yohanes 10 : 29-30 menyatakan bahwa, (ayat 29) Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. (ayat 30) Aku dan Bapa adalah Satu.

Disini jelas Tuhan Yesus menyatakan bahwa Aku dan Bapa adalah Satu, kalimat Aku dan Bapa adalah Satu sejalan apa yang tertulis didalam Kitab Yohanes 8 : 58 yang berbunyi : Kata Yesus kepada mereka, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. Mengapa saya katakan sejalan, Bagaimana tidak. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia telah ada sebelum Abraham jadi.

Coba kita hitung berapa tenggang waktu antara hidupnya Abraham sampai keturunan Yusuf yang menikahi Maria (Lihat silsilah Yesus Kristus, Matius 1 : 1-17), Jika Yesus sudah ada sebelum Abraham jadi, lalu dimanakah Yesus tinggal ? Adakah seorang manusia dibawah kolong langit ini yang mengklaim dirinya sudah ada atas sesuatu yang telah tiada berabad-abad lamanya ?. Bagi saya, Yesus berani menyatakan bahwa dirinya sudah ada sebelum Abraham jadi oleh karena ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Lepas dari kedua Firman diatas, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat Kitab Lukas 23 : 43 yang berbunyi : Kata Yesus kepadanya, Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus. Bagi saya bila ada manusia yang berani nyatakan bahwa dirinya hari ini akan masuk surga, ditambah lagi ia menjamin seseorang lagi bahwa hari ini atau saat ini juga orang tersebut dan dirinya ada di surga, maka orang tersebut tentu mempunyai otoritas dan kewenangan yang cukup besar disurga, sedangkan kita semua tahu yang berkuasa di surga adalah Tuhan Allah, Jika demikian mengapa Yesus berani berkata kepada orang yang disalibkan disebelah kanannya bahwa Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus ? Bagi saya, Yesus berani berkata demikian oleh karena ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Tuhan Allah yang kita puji dan sembah, Berkuasa di surga dan atas segala ciptaan-NYA dibawah kolong langit ini, dengan kata lain segala Kuasa di surga dan dibawah kolong langit ini adalah mutlak milik-NYA. Jika demikian mengapa Yesus berani berkata kepada murid-muridnya sebelum Ia naik ke surga, sebagaimana tertulis dalam Kitab Matius 28 : 18 menyatakan bahwa : Yesus mendekati mereka dan berkata, Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan dibumi. Perkataan Yesus ini jelas menggambarkan kepada kita bahwa dirinya adalah Tuhan Allah, karena yang berkuasa di surga dan di bumi hanyalah Tuhan Allah. Bagi saya, Yesus berani berkata demikian oleh karena ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Dan sebagai bahan perbandingan coba kita lihat kesaksian Yohanes Pembaptis sebagaimana tertulis dalam Kitab Yohanes 3 : 35 yang menyatakan bahwa : ”Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-NYA”. Menyerahkan segala sesuatu.! Ini artinya segala yang ada pada Bapa, baik itu kuasa dan kemuliaan. semua sudah diberikan kepada Anak. Maka genaplah Firman Tuhan ”Aku dan Bapa adalah Satu”

Otoritas kekuasaan atas kehidupan menjadi mutlak milik Tuhan Yesus sebagaimana kesaksian Petrus dan Yohanes yang tertulis dalam Kitab Kisah Para Rasul 4 : 12 menyatakan bahwa : Dan keselamatan tidak ada didalam siapapun juga selain didalam Dia (Yesus), sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. Disini Petrus dan Yohanes mau menggambarkan kepada kita bahwa ”Diluar Yesus tidak ada keselamatan” mengapa demikian ? Karena mereka tahu bahwa ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Kembali Yohanes memberi kesaksian sebagaimana tertulis dalam Kitab Yohanes 14 : 6 menyatakan bahwa : Kata Yesus kepadanya, Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Mengapa Tuhan Yesus berkata demikian ? Oleh karena ”Bapa” yang kita tuju adalah ”Aku” juga.

Bagaimana kita bisa tiba pada Bapa, sedangkan Aku yang adalah satu dengan Bapa yang sementara berada dengan kita tidak diperhatikan. Hal ini menggambarkan betapa jelasnya ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Alkitab, sebagaimana tertulis dalam Kitab Yohanes 8 : 24 menyatakan bahwa : Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu, sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu, hal ini kembali memberi kesaksian kepada kita bahwa kalimat ”sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” menunjukan Pribadi Yesus yang sebenarnya adalah juga Tuhan Allah, mengapa demikian ? Bila kita perhatikan ayat ini secara keseluruhan dari Kitab Yohanes 8 : 12-29 maka kita akan jumpai kalimat yang Yesus katakan bahwa : ”Jika sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku”, sehingga ”Akulah Dia” yang tertulis diatas sejalan dengan ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Disamping itu Kuasa atas ”Maut” dan ”Hidup” adalah mutlak milik Tuhan Allah. Maka jika hanya tidak percaya pada bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu. Hal ini menunjukan bahwa ”Akulah Dia” sebenarnya sejalan dengan ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Dalam Kitab Yohanes 8 : 17 -18 menyatakan bahwa : (ayat 17) Dan dalam Kitab Taurat-mu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah. (ayat 18) Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri dan juga Bapa yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku. Yesus telah bersaksi tentang dirinya bahwa ”Aku dan Bapa adalah Satu” sebagaimana diuraikan diatas. Bagaimana dengan Bapa (Tuhan Allah) bersaksi tentang Aku (Yesus) ? Mari kita perhatikan secara seksama ! Ketika Yohanes Pembaptis melakukan Baptisan di sungai yordan, maka datanglah penduduk dari Yerusalem, Daerah Yudea dan daerah sekitar Yordan.

Hal ini menunjukan bahwa begitu banyak orang yang hadir di baptisan itu. Alkitab sebagaimana tertulis dalam Matius 3 : 1-17, memberi kesaksian kepada kita bahwa Yesus juga hadir dalam baptisan itu untuk di baptis, dan setelah dibaptis, Yesus keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka, Roh Allah turun keatas-NYA seperti burung merpati dan kemudian terdengarlah suara dari surga yang mengatakan ” Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, Kepada-NYAlah Aku berkenan”.

Siapakah Yesus, sehingga Tuhan Allah berkepentingan membuka langit yang disaksikan oleh begitu banyak orang dan Tuhan Allah berkepentingan untuk berkata secara langsung ” Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, Kepada-NYAlah Aku berkenan” ? Bagi yang orang kurang percaya tentu akan bertanya balik pada saya bahwa, Tapi kalimat diatas Tuhan Allah berkata ”Inilah Anak-Ku” bukan ”Inilah Diri-Ku juga”.

Benar demikian, Mari kita lihat kesaksian Alkitab berikut ini ; Kitab Matius 1 : 23 yang menyatakan bahwa : Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamai Dia Imanuel – yang berarti : Allah menyertai kita. Ayat Firman dalam kalimat diatas, terurai begitu jelas dan lugas menjelaskan bagaimana hubungan ”Aku dan Bapa adalah Satu”.

Memang benar masih begitu banyak kesaksian dalam Alkitab yang menggambarkan bahwa ”Aku dan Bapa adalah Satu” yang tidak dapat saya uraikan satu persatu, akan tetapi harapan saya, semoga dari uraian singkat diatas, dapat menguatkan Iman percaya kita yang bernaung didalam Gereja Masehi Injili DiTimor (GMIT) bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah.

Bila Alkitab telah menjawab bagi kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah, maka masih pantaskah orang-orang sesat mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan dan Allah serta Yesus juga bisa salah….!!? Menutup catatan ini, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada saudara Ezra Alfred Soruh, yang selalu giat memberi penguatan Iman lewat Tulisan-tulisannya.

Jonson G. Dethan, M.Div.

March 17, 2009

Soli Deo Gloria (Refleksi untuk hari Reformasi 31 Oktober 2008) Oleh: DS.Jonson G. Dethan, M.Div Penulis tinggal di Kupang”SOLI DEO GLORIA”. Kemuliaan hanya untuk Allah. Inilah teriakan pekik rohani para Reformator di era Reformasi dahulu. Ya, dalam setiap doktrin, khotbah, perkuliahan, percakapan para reformator pada waktu itu, semuanya terarah pada kebenaran yang maha luar biasa ini, yaitu kemuliaan hanya untuk Allah saja (GLORY TO GOD ALONE). Slogan ini muncul dalam begitu banyak tulisan dan buku, sikap hidup orang percaya pada waktu itu, bahkan dalam alam raya di setiap detik sejarah reformasi pada waktu itu. Ya, kemuliaan hanya untuk Allah saja (GLORY TO GOD ALONE). Namun bagaimana dengan kita pada era Reformasi ini? Bagaimana dengan kita yang hidup di masa sekarang ini? Bagaimana dengan gereja kita? Bagaimana dengan keluarga dan teman-teman kita? Bagaimana dengan bisnis kita? Bagaiamana dengan kantor kita? Bagaiamana dengan kerja kita? Bagaimana dengan istri dan anak kita? Bagaimana dengan diri kita sendiri? Tidak lama lagi kita akan merayakan Hari Reformasi yang jatuh pada tanggal 31 Oktober ini. Apakah semangat teriakan “Soli Deo Gloria” itu masih terus keluar atau muncul dari mulut dan kerja kita? Ataukah suara teriakan itu telah berubah menjadi ” kemuliaan bagiku, gedung gerejaku, karya – kerjaku, organisasiku dan diriku sendiri?” Ya, tangal 31 Oktober adalah hari Reformasi. Tapi Ma”, pada tanggal itu juga adalah hari Halloween? Saya mau ke acara Halloween Ma’. Teman-temanku lagi bersiap-siap merayakan hari itu. Rupa-rupanya hari Halloweenpun telah menjadi sebuah trend baru yang datang dan mengganggu konsentrasi perayaan hari Reformasi itu. Apa lagi disana sini orang makin mempromosikan hari Halloween lewat buku-buku, majalah, koran, telelvisi, radio bahkan toko-toko dan dari super market-super market, demi mencari keuntungan bisnis. Dengan demikian di satu pihak gereja dan orang Kristen serta anak-anak Kristen harus merayakan hari Reformasi yang berpusat hanya pada kemuliaan Allah, sementara di pihak lain juga ada sugguhan dari dunia dengan perayaan Halloween yang berpusat pada dunia dan manusia bahkan hantu-hantu dan setan. Sebagai orang Kristen yang sejati kita diperhadapkan dengan paling sedikit dua bentuk perayaan yang saling bertentangan satu sama lain ini. Yang satunya berpusat pada Allah ( theo-centris) sementara yang lainnya berpusat pada manusia (antropho-centris) dan pada dunia ini bahkan mengarah kepada penyembahan berhala. Pertanyaannya apakah yang harus kita buat? Merayakan hari Reformasi sebagaimana yang dikomandangkan oleh para Reformator? Atau merayakan hari Halloween? Atau merayakan keduanya? Atau kita memilih untuk diam saja alias abstain? Itu juga bisa menjadi suatu pilihan. Saya berharap kiranya pada kesempatan ini, kita dapat bersama mengambil waktu untuk merenungkan kembali pentingnya gerakan Reformasi yang kerjakan oleh Tuhan kita lewat para Reformator seperti Luther, Calvin, Swingly demi gereja Tuhan dan umatNya. Semoga dengan tulisan yang sederhana ini kita dapat merayakan peristiwa gerejani tersebut dengan penuh syukur kepada Tuhan sebagai satu-satunya Allah (the only God) yang patut menerima semua pujian, hormat, syukur dan kemuliaan dan kejayaan dan kebesaran dari selama-lamanya sampai selama-lamanya (Soli Deo Gloria). Arti Ajaran Soli Deo Gloria Sebelum kita melihat pada arti pentingnya slogan ini mungkin ada baiknya apabila kita secara ringkas melihat arti kelima slogan Reformasi itu. Salah seorang teman saya, Pak Michael Horton, (seorang Professor apologetics dan theology di Westminster Seminary California (Escondido, California) menyatakan bahwa ke lima slogan/pilar Reformasi itu memiliki arti pendek sebagai berikut : Sola yang pertama Sola Scriptura menunjukan kepada fondasi iman kita yang satu-satunya yaitu Firman Allah (Our Only Foundation). Sola yang ke dua Solus Christus menunjukan kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Mediator kita (Our Only Mediator). Sola yang ke tiga adalah Sola Gratia menunjukan kepada satu-satunya methode bagi kita untuk diselamatkan yaitu oleh anugerah Allah (Our Only Method). Sola yang ke empat adalah Sola Fide menunjukan kepada alat yang kita perlu untuk menerima keselamatan yang diberikan oleh Allah dalam Tuhan Yesus Kristus yaitu iman (Our Only Means). Sola yang terakhir yaitu Soli Deo Gloria menunjukan kepada tujuan dan arah hidup kita yaitu untuk kemuliaan Nama Allah (Our Only Ambition). Ke lima sola/pilar/slogan yang mucul pada era Reformasi ini merupakan ringkasan dari semua dasar pengajaran theologi dari para reformator. Inilah yang menjadi lima dasar kepercayaan fundamental bagi kehidupan umat Kristiani. Sebagai orang Kristen yang sejati yang percaya pada Allah Tritunggal sebagai satu-satunya Pencipta (Creator), Penebus (Redemptor) dan Pengudus (Sanctifier) haruslah mendalami, memahami dan menerapkan arti ke lima slogan reformasi ini dalam hidupnya di era Reformasi ini. Dari ke lima slogan itu kita akan memperhatikan slogan yang terakhir yaitu Soli Deo Gloria. Kata Sola atau soli berasal dari bahasa Latin yang berarti “hanya” (“alone” or “only” dalam bahasa Inggris), Kata Deo berarti “Allah” (“God” dalam bahasa Inggris) yang tentunya mengarah kepada Allah Tritunggal kita; Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sementara kata Gloria berarti “kemuliaan”. Jadi secara harafiah Sola Deo Gloria berarti kemuliaan hanya untuk Allah. Dalam dunia modern ini, kita sangat terbiasa dengan kata kemuliaan (dalam bahasa Inggris: glory). Karena begitu terbiasa dengan kata ini maka apabila kita meminta setiap orang Kristen di antara kita untuk memberikan definisi tentang kata kemuliaan ini, maka kita dapat menemukan banyak sekali definisi yang diberikan. Tapi kalau kita perhatikan baik-baik kata mulia (glory), apabila dipakai untuk Tuhan Allah, maka kata ini hampir sama dengan kata hormat yang sekaligus mengarah kepada semua sifat Allah. Sifat-sifat Allah itu termasuk kebaikan-Nya, kuasa-Nya, kebenaran-Nya, keadilan-Nya, dan lain-lainnya. Semua sifat Allah ini menyatakan kemuliaan dan kehormatan Allah kita. Jadi tat kala kita menggunakan kata kemuliaan kepada Allah maka haruslah kita ingat akan semua sifat Allah yang maha luar biasa itu. Dengan demikian kita melihat betapa hebatnya Allah kita dibandingkan dengan kita manusia dan semua ciptaaan yang lainnya. Selain dari itu kata mulia itu juga biasa dipakai sebagai kata kerja memuliakan (to glorify). Kata ini mengarah kepada sebuah deklarasi atau pernyataan pujian, hormat dan penyembahan yang tulus dan sangat tinggi kepada Allah Tritunggal kita. Ini juga merupakan sebuah pengakuan yang membedakan antara kita dan Allah kita. Dengan ini kita mengaku siapakah Allah kita itu dan siapakah kita ini. Hal ini menunjukan kepada kita bahwa semua yang Allah buat sunguh amat mulia dan luar biasa. Jadi dengan menggunakan kata mulia kita harus mengakui betapa hebat dan luar biasa dan agungnya Tuhan Allah Tritungal kita. Hanyalah yang patut menerima segala pujian dan hormat dan syukur dan kejayaan sampai selama-lamanya (Soli Deo Gloria). Tujuan Ajaran Soli Deo Gloria Slogan Soli Deo Gloria muncul akibat keadaan dunia pada waktu itu penuh dengan berbagai kegelapan hidup. Bahkan gereja juga dipengaruhi oleh berbagai teologia yang berpusat pada manusia (man-centered theology), korupsi, abuse, dan berbagai skandal. Pada waktu itu gereja juga jatuh pada dosa kesombongan, mencari kemulian manusia, dan kemulian gedung-gedung megah. Semuanya itu mengarah pada pencurian kemuliaan Allah. Akibatnya gereja dan jemaat menjadi frustasi. Tapi Tuhan kita luar biasa. Ia tidak meninggalkan gereja berjalan dalam kegelapan. Seperti tak kala Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Tuhan datang dan mencari mereka dan memberikan jalan keluar agar mereka dapat diselamatkan (Kejadian pasal 3). Pada zaman Reformasi pun demikian Tuhan menggunakan Martin Luther, seorang biarawan, imam, dan profesor pada sebuah universitas untuk membawa perubahan (Reformasi) dalam Gereja Tuhan. Lewatnya Tuhan memberitahukan kepada umat-Nya untuk kembali ke Alkitab (Back to the Bile). Tuhan mengajar umat-Nya agar mereka bertobat dari kesombongan mereka. Mereka harus sadar bahwa semua yang mereka peroleh adalah Kasih Karunia Allah semata-mata dan bahwa segala kemuliaan patut diarahkan hanya bagi Allah saja. (all to the glory of God, soli Deo gloria). Luther dan para Reformator lainnya menempatkan Firman Tuhan sebagai pusat kehidupan bergereja. Ya. Back to the Bible ( Kembali ke Firman Allah). Mereka mengatakan bahwa kebenaran adalah Anugerah Allah (justification by grace alone, sola gratia). Untuk itu maka semua pusat aktivitas manusia dan gereja haruslah dipusatkan hanya untuk kemuliaan Allah bukan untuk kemuliaan manusia, bukan untuk kemuliaan gereja atau gedung-gedung gereja yang indah, besar, dan yang menjulang tinggi. Dengan slogan ini para Reformator ingin menyatakan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan harus terarah untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk kemuliaan dan kesombongan manusia. Jadi dengan Slogan Soli Deo gloria , sebagai orang Kristen yang sejati kita diajarkan bahwa apapun yang kita pikirkan, rencanakan dan kerjakan harus termotivasi dan terinspirasi dengan dasar pikiran hanya untuk kemuliaan nama Tuhan dan bukan untuk kemulian nama diri kita. Kehadiran kita di dunia ini pun bukan karena kehebatan kita atau kebolehan orang tua kita atau oleh orang lain, tapi Firman Tuhan berkata manusia ada karena hasil pekerjaan Tuhan Allah Allah Tritunggal (Kejadian 1,2). Begitu pula kita sebagai orang yang berdosa kita patut dibinasanakan, namun Firman Tuhan mengatakan bahwa karena kasih karunia Allah, kita diselamatkan dengan cuma-cuma dalam Kristus. (Roma 3:25), bahkan iman yang ada dalam hati kita pun diberikan dan dikerjakan oleh Roh Kudus ( Ef 2:8,9). Dengan demikian para Reformator mau memberitahukan kepada setiap orang percaya dengan mengaminkan Firman Tuhan bahwa semua yang kita peroleh adalah dari Allah, oleh Allah, dan kepada Allah. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamnya. Soli Deo Gloria (Roma 11:36) Dasar-Dasar Alkitab untuk Ajaran Soli Deo Gloria Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu dan Ia tidak mau kita menyembah hal atau oknum yang lain kecuali menyembah Dia saja sebagai satu-satunya Allah yang patut disembah dan dimuliakan. Jadi kita tidak boleh menggantikan Allah kita dengan diri kita sendiri, uang, benda, organisasi, atau makluk apapun, sebagai tujuan atau sasaran pujian penyembahan kita agar kita tidak jatuh pada bentuk penyembahan berhala. Calvin dan murid-muridnya dalam Katekismus Heidelberg Minggu ke 34, Pertanyaan dan Jawab 95 mengatakan bahwa “Penyembahan berhala ialah: menggantikan Allah yang Esa dan benar, yang telah menyatakan diriNya dalam FirmanNya, atau mereka-reka dan mempunyai tempat kepercayaan lain di samping Allah. (band.1 Taw. 16:26; Yes 44:16,17; Yoh 5:23; Gal. 4:8; Ef 2:12; Ef 5:5; Fil. 3:19; 1 Yoh. 2:23; 2 Yoh.9) Ada banyak text dalam Alkitab yang menyatakan kepada kita untuk memuliakan Allah yang menunjukan kepada kita betapa penting dan benarnya slogan Soli Deo Gloria ini: Why 1:6: Bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya Amin. Ef 3:21: Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya Amin. Maz.148:13: Biarlah semua maklukh memuji-muji Tuhan. Sebab hanya namaNya saja yang tinggi luhur. 1 Kor 10:31: Aku menjawab: jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah. 1Pet 4:11: Kita harus menyampaikan firman Allah dengan kekuatan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Roma 16:27: Bagi Dia satu-satunya Allah yang penuh hikmat oleh Yesus Kristus segala kemuliaan sampai selama-lamanya. 1 Tim 1:17: Kita harus memberi hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal. Yudas 25: Bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan, dan kuasa sebelum segala abat dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin Why 15:4: Sipakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan namaMu? Mazmur 86:9-10: Semua bangsa akan memuliaan Dia. 1 Korintus 6:20: Kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita dengan menjadi kekudusan hidup sexual apakah masih single atau sudah menikah. Efesus 1:11-12: Sebab Allah telah menentukan kita untuk diselamatkan oleh anugerah lewat iman dalam Kristus, Allah dimuliakan. Roma 4:19-22. Kita harus memuliakan Dia lewat iman sebagaimana yang dibuat Abraham. 1 Pet. 2:12: Kita harus memiliki hidup yang penuh dengan perbuatan baik supaya tat kala orang yang tidak percaya membawa tuduhan yang palsu kepada kita, maka Allah akan dimuliakan. Why 7:12 : Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kuasa dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Roma 11:36: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemualiaan sampai salama-lamanya. Aplikasi Ajaran Soli Deo Gloria Dengan melihat semua ini maka, semua aktivitas kehidupan kita haruslah diarahkan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Sebagaimana kata Pengakuan Iman Westminster Shorter Catechism : Apakah tujuan hidup dari manusia? Tujuan hidup manusia adalah untuk kemuliaan Tuhan dan menikmati kehadirannya dalam hidup kita selamanya. Prinsip inilah yang menjadi tujuan hidup dari orang Kristen yang hidup pada abat 16 dan 17 dalam rangka mereformasikan gereja Tuhan berdasarkan Firman Tuhan. Para Reformator melihat bahwa seluruh hidup mereka harus diserahkan pada pimpinan dan tuntunan Kristus dan bahwa seluruh aktivitas hidup dan kerja kita sebagai orang Kristen haruslah dikuduskan untuk kemuliaan nama Tuhan saja. Berhubungan dengan hal ini patut kita catat juga bahwa para Reformator pada waktu itu tidak membuat perbedaan antara aktivitas kerja/hidup yang rohani (spiritual) dan aktivitas hidup yang bukan rohani (temporal), yang kudus (sacred) dan yang tidak kudus (secular). Jadi mereka tidak memisahkan antara kedua aspek kehidupan itu sebagai dua hal yang berbeda atau bertentangan. Mereka percaya bahwa Allah telah menciptakan kita untuk menjadi pekerja-pekerja-Nya. Jadi bukan aktivitas gerejani saja yang membawa kemuliaan nama Tuhan, tetapi semua aktivitas hidup kita haruslah untuk kemuliaan nama Tuhan. Dengan demikian apakah kita sebagai pelayan di mimbar atau petani di ladang atau pekerja di dapur atau sopir di bemo atau pegawai di kantor atau nelayan di laut dan sebagainya haruslah dikerjakan untuk kemuliaan nama Tuhan. Karena semua yang kita kerjakan dalam iman akan membawa kemuliaan bagi Allah (Yesaya 60:21). Menyadari akan ajaran Alkitabiah ini maka ada sekian banyak orang Kristen termasuk Johann Sebastian Bach dan George Frideric Handel, composer-komposer musik yang terkenal menggunakan slogan Soli Deo Gloria ini sebagai motto hidup dan kerja mereka. Di akhir dari setiap manuskripnya (hasil kerja musik dan liriknya) selalu mereka akhiri dengan tulissn kependekan (initials) “SDG” yang berarti Soli Deo Glory. Dengan ini mereka mau memberitahukan kepada siapa saja yang membaca, menggunakan atau menyanyikan hasil karya musiknya harus mereka ingat bahwa ini adalah hanya untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan (SDG = Soli Deo Gloria) Dalam merayakan hari Reformasi ini, kita harus melihat diri kita sendiri, gereja kita sendiri, hidup kita sendiri. Apa bila kita percaya bahwa gereja harus selalu bereformasi ( semper reformanda – always reforming-) maka kita haruslah melihat bagamana Tuhan Allah menggunkan kita untuk menjadi reformator dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Hal ini mengingatkan kita akan betapa benarnya kata-kata John Calvin, yang juga merupakan Bapa Teologia Reformasi yang dalam bukunya Institutes of the Christian Religion tentang hubungan antara mengenal Allah dan mengenal diri kita sendiri ( relationship between knowing God and knowing ourselves). Kita dipangggil untuk memuliakan Tuhan secara penuh dalam hidup kita sehari-hari. Hari Reformasi haruslah menjadi sebuah hari yang mereformasikan kita dari jiwa kita, membawa pembaruan dalam hubungan kita dengan Allah sebagai Bapak kita yang setiawan. Jadi hal yang paling penting dalam merayakan hari Refomasi ini, haruslah kita ingat bagaimana para Reformator memusatkan segala kerja dana hidup mereka pada kemuliaan Allah. Hari Reformasi adalah sebuah reklamasi dan re-affirmasi (reclamation and a re-affirmation of) dari soli Deo gloria. Peristiwa Reformasi adalah sebuah pelajaran berharga yang harsus kita pegang dan sampaikan kepada anak-anak dan turunan kita agar kita tidak terjebak dengan mencari kemuliaan dan kehormatan diri kita atau gereja kita atau organisasi kita atau nama keluarga kita dan lain sebagainya, tetapi kita harus mencari kemuliaan nama Tuhan . Kesimpulan Dengan semangat Reformasi, marilah kita merayakan hari Reformasi ini sambil melihat dan menilai, apakah di gereja-gereja kita sementara hidup dalam ketaatan kepada Kristus ataukah sementara hidup dan berpusat pada manusia dan dunia? Bagaimana dengan pelayan kita, majelis kita, jemat kita, suami kita, istri kita , kakak adik kita, teman- teman sekerja kita, pegawai dan majikan atau kepala kantor kita, pemimpin-pemimpin kita dalam pemerintahan dan dalam organisasi di mana kita berada? Apakah kita semua memang mencintai dan mengikuti Kristus secara tulus dan hidup berpusat pada Tuhan? Ataukah kita dan gereja kita sementara jatuh dalam berbagi penyembahan berhala. Mari kita berdoa dan meminta hikmat dari pada Tuhan agar kita menjadi bijaksana dan menjadi reformator-reformator di abad millenium ini. Biarlah semua yang kita pikirkan, rancangkan, dan lakukan, kita tujukan untuk hormat dan kemuliaan nama Allah sebagai ucapaka syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan Allah kita sebagai sember segala sumber berkat dan hidup dan keselamatan. Akhir kata, dengan semangat Reformasi, marilah kita mengisi waktu kita yang ada, dengan dasar Alkitab (back to the Bible), dengan kesadaran bahwa kita bukanlah yang terhebat, terbaik atau yang terbesar, tetapi oleh Anugerah Tuhan dalam Tuhan Yesus Kristus dan oleh persekutuan Roh Kudus, kita mau menjadikan hidup kita menjadi hidup untuk kemuliaan nama Tuhan saja (Soli Deo Gloria = SDG) .

Hello world!

February 27, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.